Diklat Fungsional Guru Kimia

Peserta Diklat Fungsional Guru Kimia di Balai Diklat Keagamaan Makassar

Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2019

Tim Peserta KSM Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan dari MAN Sidenreng Rappang

Showing posts with label MATERI KIMIA XI. Show all posts
Showing posts with label MATERI KIMIA XI. Show all posts

24 October 2023

BUKU KIMIA KELAS XI (K-13 DAN KURMER)

Perubahan kurikulum secara tidak langsung akan menyebabkan terjadinya perubahan buku referensi yang dipakai pada proses pembelajaran. Buku Paket sebagai salah satu sumber belajar tetap bisa menjadi rujukan pada proses pembelajaran dengan mengacu pada materi yang sama karena pada dasarnya "konsep" tentang materi tersebut tidak terlalu banyak berubah. Berikut ini beberapa Buku Kimia Kelas X Kurikulum K-13 yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Silakan Unduh melalui link yang ada di bawah gambar sampul buku tersebut!


















Berikut adalah link untuk mendownload Buku Kimia SMA/MA Kelas XI Kurikulum Merdeka (Kurmer). Buku tersebut diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.  Tahun 2022.


Untuk selengkapnya silakan kunjungi https://buku.kemdikbud.go.id
































21 October 2023

Mengenal Reaksi-Reaksi Hidrokarbon: Pembakaran, Substitusi, Eliminasi, dan Adisi

Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Senyawa ini terbagi menjadi dua golongan besar: jenuh (alkana) dan tak jenuh (alkena dan alkuna). Hidrokarbon sangat reaktif dan dapat mengalami berbagai jenis reaksi kimia. Dalam artikel ini, kita akan membahas empat jenis reaksi penting: pembakaran, substitusi, eliminasi, dan adisi.

1. Reaksi Pembakaran

Pengertian:

Reaksi pembakaran adalah reaksi hidrokarbon dengan oksigen (O₂) yang menghasilkan energi dalam bentuk panas dan cahaya. Produk utamanya adalah karbon dioksida (CO₂) dan uap air (H₂O) jika pembakaran sempurna.

Ciri-ciri:

  • Membutuhkan O₂

  • Menghasilkan energi (eksoterm)

  • Dapat menghasilkan CO atau C (jelaga) jika tidak sempurna

Contoh:

Pembakaran sempurna propana (C₃H₈):

C3H8+5O2→3CO2+4H2OC_3H_8 + 5O_2 \rightarrow 3CO_2 + 4H_2O

Pembakaran tidak sempurna:

2C3H8+7O2→6CO+8H2O2C_3H_8 + 7O_2 \rightarrow 6CO + 8H_2O

2. Reaksi Substitusi

Pengertian:

Reaksi substitusi terjadi ketika suatu atom atau gugus atom dalam molekul hidrokarbon digantikan oleh atom/gugus lain. Umumnya terjadi pada alkana dan senyawa aromatik.

Ciri-ciri:

  • Umum terjadi pada senyawa jenuh (alkana) dan benzena

  • Memerlukan katalis atau sinar UV

Contoh:

Reaksi metana (CH₄) dengan klorin (Cl₂) di bawah sinar UV:

(Hidrogen digantikan oleh atom klor)


3. Reaksi Eliminasi

Pengertian:

Reaksi eliminasi adalah reaksi pelepasan dua atom atau gugus dari molekul, membentuk ikatan rangkap. Biasanya terjadi pada alkohol atau alkil halida yang membentuk alkena.

Ciri-ciri:

  • Umumnya terjadi pada senyawa jenuh

  • Menghasilkan senyawa tak jenuh (alkena)

  • Diperlukan pemanasan dan katalis (seperti asam kuat)

Contoh:

Dehidrasi etanol (alkohol) menjadi etena (alkena):

(Etanol kehilangan air → etena)


4. Reaksi Adisi

Pengertian:

Reaksi adisi adalah reaksi penambahan atom atau gugus ke ikatan rangkap karbon (pada alkena atau alkuna), sehingga menghasilkan senyawa jenuh.

Ciri-ciri:

  • Terjadi pada senyawa tak jenuh (alkena, alkuna)

  • Menghilangkan ikatan rangkap

  • Tidak membutuhkan sinar UV, biasanya berlangsung dengan katalis

Contoh:

Adisi bromin (Br₂) pada etena:

CH2=CH2+Br2→CH2Br−CH2BrCH_2=CH_2 + Br_2 \rightarrow CH_2Br-CH_2Br

(Br₂ ditambahkan ke ikatan rangkap etena)


Perbedaan Keempat Reaksi

Jenis ReaksiSubstrat UmumProdukSifat IkatanKebutuhan Energi/Katalis
PembakaranSemua hidrokarbonCO₂ dan H₂OSemua jenis ikatanButuh O₂ dan api/suhu tinggi
SubstitusiAlkana/benzenaProduk ter-substitusiJenuh/lingkar aromatikSinar UV atau katalis
EliminasiAlkohol, alkil halidaAlkena + gugus lepasDari jenuh ke tak jenuhAsam kuat, suhu tinggi
AdisiAlkena/alkunaSenyawa jenuhDari tak jenuh ke jenuhBisa spontan, kadang pakai katalis

Kesimpulan

Reaksi-reaksi hidrokarbon sangat penting dalam dunia kimia, khususnya industri kimia dan petrokimia. Memahami reaksi pembakaran, substitusi, eliminasi, dan adisi memungkinkan kita untuk memahami bagaimana bahan bakar, plastik, obat-obatan, dan banyak senyawa penting lainnya diproduksi dan diubah.






20 October 2023

Membedah Konsep Dasar Kimia: Sistem, Lingkungan, Reaksi Eksoterm & Endoterm

Halo, Sobat Pembelajar! Pernahkah kamu merasa bingung dengan istilah-istilah seperti sistem, lingkungan, reaksi eksoterm, dan endoterm dalam pelajaran kimia? Tenang, kamu tidak sendirian! Konsep-konsep ini adalah fondasi penting dalam cabang ilmu termokimia, yang mempelajari tentang perubahan energi dalam reaksi kimia.

Yuk, kita bedah satu per satu dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang relevan dalam kehidupan sehari-hari!


Sistem dan Lingkungan: Si Aktor dan Panggungnya

Bayangkan kamu sedang menyeduh secangkir kopi panas. Dalam termokimia, kita perlu mendefinisikan apa yang menjadi fokus pengamatan kita dan apa yang ada di sekitarnya.

  • Sistem: Bagian dari alam semesta yang menjadi pusat perhatian atau pengamatan kita. Dalam kasus kopi panas, sistemnya adalah air panas dan bubuk kopi yang bereaksi di dalam cangkir.
  • Lingkungan: Segala sesuatu yang berada di luar sistem. Dalam contoh kita, lingkungannya adalah cangkir, tanganmu yang memegang cangkir, meja, dan udara di sekitar cangkir.

Sederhananya, sistem adalah "aktor" yang sedang kita amati, dan lingkungan adalah "panggung" dan segala sesuatu di sekitarnya. Interaksi antara keduanya—terutama dalam bentuk perpindahan energi (panas)—adalah kunci untuk memahami konsep selanjutnya.

(Ilustrasi: Secangkir kopi panas sebagai sistem, dan tangan serta udara sebagai lingkungan)


Reaksi Eksoterm: Melepas Energi ke Lingkungan 🔥

Reaksi eksoterm adalah reaksi kimia yang melepaskan energi dari sistem ke lingkungan. Kata "ekso" berarti "keluar", jadi bayangkan saja panasnya "keluar" dari sistem.

  • Apa yang terjadi? Karena sistem melepaskan panas, suhu lingkungan menjadi naik atau terasa lebih hangat.
  • Tanda Perubahan Entalpi (): Energi dalam sistem berkurang, sehingga nilai perubahan entalpinya selalu negatif (∆H< 0).

Contoh Reaksi Eksoterm:

  • Pembakaran: Api unggun, lilin yang menyala, atau bahkan proses metabolisme tubuh kita adalah contoh reaksi pembakaran yang melepaskan panas dan cahaya.
  • Reaksi Netralisasi: Mencampurkan larutan asam kuat dengan basa kuat akan menghasilkan panas. Jika kamu memegang wadahnya, akan terasa hangat.
  • Membuat Beton: Proses pengerasan semen pada adukan beton juga melepaskan panas.

Reaksi Endoterm: Menyerap Energi dari Lingkungan ❄️

Reaksi endoterm adalah kebalikan dari eksoterm. Reaksi ini menyerap energi dari lingkungan ke dalam sistem. Kata "endo" berarti "ke dalam", jadi bayangkan panas "masuk" ke dalam sistem.

  • Apa yang terjadi? Karena sistem "mencuri" panas dari lingkungan, suhu lingkungan menjadi turun atau terasa lebih dingin.
  • Tanda Perubahan Entalpi (): Energi dalam sistem bertambah, sehingga nilai perubahan entalpinya selalu positif ().

Contoh Reaksi Endoterm:

  • Mencairnya Es Batu: Es batu (sistem) perlu menyerap panas dari udara atau tanganmu (lingkungan) untuk berubah menjadi air. Inilah mengapa tanganmu terasa dingin saat memegang es.
  • Fotosintesis: Tumbuhan (sistem) menyerap energi cahaya matahari (dari lingkungan) untuk mengubah karbon dioksida dan air menjadi glukosa.
  • Kompres Dingin Instan (Instant Cold Pack): Ketika kantong ini diremas, bahan kimia di dalamnya (biasanya amonium nitrat dan air) bereaksi. Reaksi ini menyerap banyak panas dari lingkungan, sehingga kantong menjadi sangat dingin.

✍️ Kesimpulan

Memahami keempat konsep ini sangatlah mudah jika kita bisa mengaitkannya dengan pengamatan sederhana.

  • Sistem & Lingkungan: Fokus pengamatan kita vs. sekelilingnya.
  • Eksoterm: Sistem melepas panas → Lingkungan jadi panas → ∆H negatif.
  • Endoterm: Sistem menyerap panas → Lingkungan jadi dingin → ∆H positif.

🧠 Contoh Soal Pilihan Ganda dan Pembahasan

Soal 1

Ketika sepotong logam magnesium dibakar di udara, terjadi reaksi yang mengeluarkan cahaya dan panas. Pernyataan yang benar adalah...

A. Reaksi endoterm, sistem menyerap panas dari lingkungan
B. Reaksi endoterm, lingkungan melepaskan panas ke sistem
C. Reaksi eksoterm, sistem melepaskan panas ke lingkungan
D. Reaksi eksoterm, lingkungan menyerap panas dari sistem
E. Reaksi endoterm, panas tetap berada dalam sistem

✅ Jawaban: C
Pembahasan: Reaksi pembakaran adalah contoh reaksi eksoterm, karena melepaskan panas dan cahaya ke lingkungan.


Soal 2

Yang termasuk contoh reaksi endoterm adalah...

A. Pembakaran kertas
B. Reaksi antara HCl dan NaOH
C. Melarutkan NH₄NO₃ dalam air
D. Pembentukan es dari air
E. Reaksi pembentukan air dari gas hidrogen dan oksigen

✅ Jawaban: C
Pembahasan: Melarutkan ammonium nitrat dalam air menyerap panas dari lingkungan → reaksi endoterm. Suhu larutan menjadi dingin.


Soal 3

Pernyataan berikut yang menunjukkan bahwa reaksi bersifat eksoterm adalah...

A. ΔH bernilai positif dan suhu sistem naik
B. ΔH bernilai negatif dan suhu sistem turun
C. ΔH bernilai negatif dan suhu lingkungan naik
D. ΔH bernilai positif dan sistem menyerap panas
E. Tidak ada perubahan suhu maupun energi

✅ Jawaban: C
Pembahasan: Reaksi eksoterm memiliki ΔH < 0 dan melepaskan energi ke lingkungan, sehingga suhu lingkungan meningkat.


Soal 4

Ketika es mencair di tangan, tangan terasa dingin. Hal ini menunjukkan bahwa...

A. Es melepaskan panas ke tangan
B. Tangan menyerap panas dari es
C. Es menyerap panas dari tangan
D. Tidak terjadi perpindahan energi
E. Panas tetap dalam lingkungan

✅ Jawaban: C
Pembahasan: Proses pencairan es adalah endoterm, di mana es menyerap panas dari tangan kita, sehingga tangan terasa dingin.


Soal 5

Manakah dari pernyataan berikut yang merupakan ciri khas reaksi endoterm?

A. Terjadi pelepasan panas
B. ΔH bernilai negatif
C. Suhu lingkungan meningkat
D. Reaksi terasa dingin
E. Energi dilepaskan ke udara

✅ Jawaban: D


19 October 2023

JENIS-JENIS PERUBAHAN ENTALPI STANDAR

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa beberapa reaksi kimia melepaskan panas, sementara yang lain justru menyerapnya? Jawabannya terletak pada konsep entalpi, yaitu jumlah energi total yang terkandung dalam suatu sistem. Perubahan entalpi (DH) menggambarkan aliran energi sebagai panas selama reaksi kimia pada tekanan konstan. Untuk membandingkan perubahan entalpi antar reaksi secara adil, para ilmuwan menetapkan kondisi standar, yaitu pada suhu 25°C (298 K) dan tekanan 1 atm. Perubahan entalpi yang diukur pada kondisi ini dikenal sebagai perubahan entalpi standar.

Mari kita selami lebih dalam berbagai jenis perubahan entalpi standar yang umum dijumpai dalam dunia kimia. ⚛️


Perubahan Entalpi Pembentukan Standar (ΔHf​°)

Perubahan entalpi pembentukan standar adalah perubahan entalpi yang terjadi ketika satu mol senyawa terbentuk dari unsur-unsurnya dalam keadaan paling stabil pada kondisi standar.

  • Kunci Utama: Pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsurnya.

·     Contoh: Pembentukan air (H2​O) dari gas hidrogen (H2​) dan gas oksigen (O2​).

     H2 ​(g) + ½  ​O2 ​(g) → H2​O(l)    ΔHf​° ​= −285,8kJ/mol. Nilai negatif ini menunjukkan  

     bahwa energi dilepaskan (reaksi eksotermik) saat air terbentuk.

  • Catatan Penting: Entalpi pembentukan standar untuk unsur murni dalam bentuknya yang paling stabil (seperti O2​(g), C(grafit), Na(s)) adalah nol.

Perubahan Entalpi Penguraian Standar (ΔHd°​)

Sesuai namanya, perubahan entalpi penguraian standar adalah kebalikan dari pembentukan. Ini adalah perubahan entalpi yang diperlukan untuk menguraikan satu mol senyawa menjadi unsur-unsur pembentuknya pada kondisi standar.

  • Kunci Utama: Penguraian 1 mol senyawa menjadi unsur-unsurnya.
  • Hubungan: Nilai ΔHd°​ sama besarnya dengan ΔHf°​ tetapi berlawanan tanda.
  • Contoh: Penguraian air. H2​O (l) → H2​(g) + ½ ​O2​(g) ΔHd° = +285,8kJ/mol Tanda positif menandakan bahwa energi diperlukan (reaksi endotermik) untuk memecah molekul air.

Perubahan Entalpi Pembakaran Standar (ΔHc°​)

Perubahan entalpi pembakaran standar mengukur kalor yang dilepaskan ketika satu mol zat terbakar sempurna dengan oksigen pada kondisi standar.

  • Kunci Utama: Pembakaran sempurna 1 mol zat.
  • Sifat: Reaksi pembakaran hampir selalu melepaskan panas, sehingga nilai ΔHc°​ umumnya negatif (eksotermik).
  • Contoh: Pembakaran metana (CH4​), komponen utama gas alam.

CH4​ (g)  + 2 O2​ (g) → CO2 ​(g) + 2 H2​O (l)  ΔHc° ​ = −890,4kJ/mol


Perubahan Entalpi Penguapan Standar (ΔHvap°)

Ini adalah perubahan entalpi yang menyertai transisi fasa. Perubahan entalpi penguapan standar adalah energi yang dibutuhkan untuk menguapkan satu mol zat cair menjadi gas pada titik didihnya dan tekanan standar.

  • Kunci Utama: Perubahan wujud dari cair ke gas untuk 1 mol zat.
  • Sifat: Selalu memerlukan energi untuk mengatasi gaya tarik antarmolekul dalam cairan, sehingga nilainya selalu positif (endotermik).
  • Contoh: Penguapan air. H2​O (l) → H2​O (g) ΔHvap° ​= +44kJ/mol

Perubahan Entalpi Peleburan Standar (ΔHfus°​)

Mirip dengan penguapan, perubahan entalpi peleburan standar (atau pelelehan) adalah energi yang diperlukan untuk meleburkan satu mol zat padat menjadi zat cair pada titik leburnya dan tekanan standar.

  • Kunci Utama: Perubahan wujud dari padat ke cair untuk 1 mol zat.
  • Sifat: Membutuhkan energi untuk memutus sebagian ikatan dalam kisi kristal padat, sehingga nilainya selalu positif (endotermik).
  • Contoh: Peleburan es menjadi air. H2​O (s) → H2​O (l)  ΔHfus° = +6,01kJ/mol

Perubahan Entalpi Netralisasi Standar (ΔHn°​)

Perubahan entalpi netralisasi standar adalah perubahan entalpi yang dihasilkan ketika satu mol air terbentuk dari reaksi antara asam dan basa pada kondisi standar.

  • Kunci Utama: Reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol H2​O.
  • Sifat: Reaksi netralisasi antara asam kuat dan basa kuat umumnya melepaskan panas (eksotermik) dengan nilai yang hampir sama.
  • Contoh: Reaksi antara asam klorida (HCl) dan natrium hidroksida (NaOH).                        HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2​O(l)  ΔHn° ​≈ −57,1kJ/mol

Perubahan Entalpi Pengatoman Standar (ΔHat°)

Perubahan entalpi pengatoman standar adalah perubahan entalpi yang diperlukan untuk memutuskan semua ikatan dalam satu mol zat sehingga menghasilkan atom-atom dalam fasa gas pada kondisi standar.

  • Kunci Utama: Pembentukan atom-atom gas dari 1 mol zat.
  • Sifat: Proses ini selalu membutuhkan energi untuk memisahkan atom-atom, sehingga nilainya selalu positif (endotermik).
  • Contoh: Pengatoman gas metana. CH4​(g) → C(g) + 4H(g)  ΔHat° ​= +1662kJ/mol

Dengan memahami berbagai jenis perubahan entalpi standar ini, kita dapat memprediksi dan menganalisis aliran energi dalam berbagai reaksi dan proses kimia, yang merupakan dasar dari termokimia.


13 October 2023

HIDROLISIS GARAM

1. Pengertian Hidrolisis

Hidrolisis berasal dari kata hidro dan lisis. Hidro artinya air, sedangkan lisis artinya penguraian.  Jadi hidrolisis adalah reaksi penguraian garam-garam dalam air, yang mana menghasilkan ion positif dan negatif. Ion-ion ini bereaksi dengan air menghasilkan asam (H3O+) / (H+) dan basa (OH-). Reaksi hidrolisis merupakan kebalikan dari reaksi penggaraman atau reaksi netralisasi. Reaksi penggaraman adalah reaksi antara asam dan basa membentuk garam. Garam yang dihasilkan bisa bersifat netral, asam, atau basa. Begitu  juga saat  garam  dilarutkan  dalam  air,  maka  ion-ion garam yang berasal dari asam lemah atau basa lemah akan bereaksi dengan air yang dinamakan reaksi hidrolisis.

2. Jenis-Jenis Hidrolisis

Beberapa kemungkinan reaksi hidrolisis yang dapat terjadi adalah:
  • Ion negatif (anion) yang berasal dari garam bereaksi dengan air dan menghasilkan ion OH- menyebabkan  konsentrasi  ion H+  lebih  kecil  dari  pada  konsentrasi  ion  OH- sehingga larutan bersifat basa 
  • Ion positif (kation) yang berasal dari garam bereaksi dengan air dan menghasilkan ion H+, menyebabkan  konsentrasi  ion  H+  lebih  besar  daripada  konsentrasi  ion  OH-sehingga larutan bersifat asam
  • Ion negatif (anion)  maupun  ion positif (kation)  yang  berasal  dari  garam  tidak  bereaksi  dengan  air sehingga konsentrasi ion H+ dan ion OH- di dalam air tidak berubah dan larutan bersifat netral.

3. Jenis-Jenis Garam

Garam merupakan hasil reaksi dari  suatu  asam  dengan  basa,  maka  ditinjau  dari  kekuatan  asam  dan  basa pembentuknya, maka ada 4 jenis garam sebagai berikut:

  • Garam yang Terbentuk dari Asam Kuat dan Basa Lemah
Garam  yang  berasal  dari  asam  kuat  dan  basa  lemah  jika  dilarutkan  dalam  air akan  menghasilkan  kation  yang  berasal  dari  basa  lemah. Kation  tersebut bereaksi  dengan  air  menghasilkan  ion  H+  yang  menyebabkan  larutan  bersifat asam. 

Contoh : 
NH4Cl (aq)   →   NH4+ (aq) + Cl- (aq)
Ion NH4+ mengalami hidrolisis dan bereaksi dengan air (H2O) membentuk reaksi kesetimbangan:
Ion NH4+  +  H2O (l)  ⇄   NH3  +  H3O+

Adanya  ion  H3O+  atau ion H+ yang  dihasilkan  tersebut  mengakibatkan  konsentrasi  ion  H+  di dalam air lebih banyak sehingga larutan garam tersebut bersifat asam.  Hidrolisis ini disebut  hidrolisis sebagian  atau  hidrolisis  parsial sebab hanya sebagian ion (ion NH4+)  yang mengalami reaksi hidrolisis. Jadi garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah akan terhidrolisis sebagian (parsial) dan bersifat asam. 

  • Garam yang Terbentuk dari Asam Lemah dan Basa Kuat
Garam  yang berasal dari asam lemah dan basa kuat jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan  anion  yang  berasal  dari  asam  lemah. Anion tersebut bereaksi dengan air menghasilkan ion OH- yang menyebabkan larutan garam bersifat basa. 

Contoh :
CH3COONa (aq)       →       CH3COO- (aq)     +   Na+ (aq) 
Ion CH3COO- mengalami hidrolisis dan bereaksi dengan air (H2O) membentuk reaksi kesetimbangan: 
 CH3COO- (aq)+  H2O (l)   ⇄  CH3COOH (aq)  +  OH- (aq)

Adanya ion OH- yang dihasilkan tersebut mengakibatkan konsentrasi  ion OH- di dalam air lebih banyak sehingga larutan  bersifat basa.  Dari  dua  ion  yang  dihasil  oleh  garam  tersebut,  hanya  ion  CH3COO-  yang mengalami hidrolisis sedangkan ion Na+ tidak bereaksi dengan air. Jika dianggap bereaksi maka NaOH yang terbentuk akan segera terionisasi menghasilkan ion Na+ kembali.  Hidrolisis  ini  disebut  hidrolisis  sebagian  atau  hidrolisis  parsial sebab hanya sebagian ion (ion CH3COO-) yang mengalami reaksi hidrolisis. Jadi garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat akan terhidrolisis sebagian (parsial) dan bersifat basa. 
  • Garam yang Terbentuk dari Asam Lemah dan Basa Lemah

Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah di dalam air akan terionisasi sempurna dan kedua ion garam tersebut bereaksi dengan air. 

Contoh : 
NH4CN (aq)  →  NH4+ (aq) + CN- (aq)
Ion NH4+ bereaksi dengan air membentuk reaksi kesetimbangan:
NH4+ (aq) + H2O (l)   ⇄  NH4OH (aq) + H+(aq)
Ion CN- bereaksi dengan air membentuk reaksi kesetimbangan:
CN- (aq) + H2O (l)   ⇄  HCN (aq) + OH-(aq)

Oleh karena kedua ion garam tersebut masing-masing menghasilkan ion H+ dan ion OH-, maka sifat larutan garam ini ditentukan oleh nilai tetapan kesetimbangan dari kedua reaksi tersebut. Hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah akan mengalami hidrolisis sempurna atau hidrolisis total,  sebab kedua ion garam mengalami reaksi hidrolisis dengan air. Sifat larutan ditentukan oleh nilai tetapan kesetimbangan asam (Ka) dan nilai kesetimbangan  basa (Kb) penyusun garam tersebut.  Jika Ka > Kb,  maka larutan akan bersifat asam dan jika  Ka < Kb maka larutan akan bersifat basa.
  • Garam yang Terbentuk dari Asam Kuat dan Basa Kuat

Ion-ion yang dihasilkan dari garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak akan mengalami hidrolisis (tidak bereaksi dengan air), sebab jika dianggap bereaksi maka akan segera terionisasi kembali secara sempurna membentuk ion-ion semula. 

Contoh :
NaCl (aq)  →   Na+ (aq)  +  Cl- (aq)

Ion Na+ di dalam larutan tidak mengalami reaksi dengan air, sebab jika dianggap bereaksi  dengan  air  maka  ion  akan  menghasilkan  NaOH  yang  akan  segera terionisasi kembali menjadi ion Na+. Hal ini disebabkan NaOH merupakan basa kuat  yang  terionisasi  sempurna.  Demikian  juga jika ion  Cl-dianggap  bereaksi dengan air, maka HCl yang terbentuk akan terionisasi sempurna menjadi ion Cl- kembali. Hal ini disebabkan HCl merupakan asam kuat. Oleh  karena  itu konsentrasi H+ dan ion OH-  dalam air tidak terganggu sehingga larutan bersifat netral. 

Berikut ini adalah video pembelajaran tentang "HIDROLISIS GARAM", Silakan disimak untuk lebih memperdalam materi tentang "Sifat-sifat Garam dan Menentukan Reaksi Hidrolisis Garam" !